22 December 2008

Bank Indonesia (BI)

Ada apa dengan Bank Indonesia (Selanjutnya di tulis BI) ? Ada yang salah kah dengan BI ? Ga ada saya rasa, apa yang mereka katakan mengenai SBI meningkat, Inflasi Turun, Jumlah Bank meningkat, dan Surat Hutang laku keras di pasaran adalah prestasi yang mereka capai sampai sekarang ini. Tapi kita lihat lagi, apakah benar inflasi kita turun?? Apakah jumlah bank yang seiring dengan kemudahan kredit bagi masyarakat kecil?? Apakah BI bisa mengontrol semua Bank yang ada?? Contoh kecil adalah Bank Rakyat Indonesia, padahal sudah tertanam pada namanya (Rakyat), maka seharusnya bisa membela kepentingan rakyatnya sendiri. tetapi apa yang terjadi? Yang menabung di BRI adalah rakyat kecil di daerah-daerah yang kemudian uangnya di bawa ke kota dan di pinjamkan pada para konglomerat, sehingga sebenarnya adalah para konglomerat itu di biayai oleh masayarakat kecil. Mudah-mudahan ini tidak terjadi, karena Direkturnya sekarang seorang akademisi (Mudah-mudahan)...Dan yang lainnya harus lah seimbang.
Terus apa yang seharusnya di lakukan??Ada 3 hal yang sebaiknya di lakukan, yaitu :
1. Reposisi Peran dan Fungsi
yaitu peran fiskal dan peran moneter. Contoh fiskal adalah Ekspor, Pajak, APBN/D dan contoh dari peran Moneter adalah SBI, Inflasi, Jumlah Bank, Surat Hutang Dll. Sehingga terjadi kinerja bersama antara fiskal dan moneter.
2. Koordinasi dan Network
Dengan Koordinasi dan Network ini diharapkan adanya Sinergisitas antara otoritas fiskal dan moneter, lintas sektoral, serta pusat dan daerah.
3. Good Governance
Sehingga Performance baik total maupun individu bisa meningkat.

Jadi, kata kunci untuk ketiga hal di atas adalah Kinerja bersama fiskal dan moneter, Sinergisitas, dan Performance yang diharapkan akan mengembalikan peran BI yang sebenar-benarnya yaitu Intermadiary Bank bisa meningkat (Karena selama ini peran yang sebenarnya ini terabaikan oleh para pejabat BI sendiri), yaitu :
- Kemudahan Kredit
- Low Cost (Biaya Murah)
- Kepastian Kredit, dan
- Aksesibilitas fasilitas Perbankan.

Selain itu, dari ketiga aspek tadi menjadi turunan terhadap Mikro ekonomi, yaitu :
Keseimbangan Permintaan dan penawaran, yang akhirnya akan terjadi optimalisasi Added Value's. Mudah-mudahan bisa terjadi.

Indonesian Bubble Enocomics

Bubble Economics adalah pembangunan yang semu di bidang ekonomi biasanya adalah ekonomi suatu negara. Mungkin kita pernah mendengar perkataan dari Bapak Presiden kita atau dari Mentri Perekonomian kita bahwa pertumbuhan ekonomi kita adalah 7,8%. Benarkan itu? Percayakah kita dengan besaran pertumbuhan ekonomi kita yang sekarang katanya lebih dari 4%? kita harus melihat dulu dengan seksama, apa penyebab pertumbuhan ekonomi sebesar itu? kembali pada teori pertumbuhan ekonomi, yaitu :
Y = C + I + GE + (X - M)
ket :
Y = Pertumbuhan Ekonomi
C = Konsumsi Masyarakat
I = Investasi
GE= Goverment Expenditure
X = Ekspor
M = Impor

Nah, kemudian yang mana yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi kita bisa dikatakan tinggi oleh Bapak Presiden dan Mentri Perekonomian ?
yang pertama adalah Nilai C yang tinggi, tetapi konsumsi barang yang seperti apa yang benar-benar meningkat, ternyata setelah diteliti konsumsi meningkat pada barang-barang konsumtif dan bukan pada barang yang produktif.
kemudian ekspor tinggi, tetapi meningkatnya ekspor bukan karena kuantitasnya yang meningkat melainkan karena harga yang naik.
Investasi meningkat, ini juga bukan investasi yang padat karya, tetapi merupakan investasi yang padat modal seperti pasar modal dan pasar uang.
Goverment Expenditure meningkat, ini bukan benar-benar pendapatan pemerintah tetapi melainkan karena pinjaman yang terus-menerus dilakukan oleh pemerintah.
Import menurun, ini menunjukkan bahwa impor mengenai alat produksi yang benar-benar menurun.
nah, ini semua adalah bubble ekonomi atau pertumbuhan ekonomi yang semu yang terjadi di Negara kita tercinta Indonesia. Sehingga, pendekatanya harus di rubah menjadi penurunan pengangguran, penurunan kemiskinan, dan peningkatan daya saing bangsa kita.
Mudah-mudahan masyarakat kita bisa melihat dengan pemikiran yang jernih mengenai ini semua. Dan mudah-mudahan masyarakat juga tidak dibohongi lagi oleh orang-orang yang pintar di atas sana.

Makro Atau Mikro Ekonomi yang Tepat di Indonesia??

Sampai saat ini, di Indonesia belum jelas mengenai penerapan ekonominya, atau dengan kata lain setengah-setengah. sehingga yang terjadi adalah bubble economics (akan saya jelaskan pada posting berikutnya), kemudian apa yang seharusnya di terapkan??
Disini saya akan bahas satu per satu, apa yang sebaiknya di terapkan untuk :
1. Negara Maju
untuk negara maju, idealnya makro ekonomi di jalankan oleh negara dan mikro ekonomi dijalankan oleh private.
2. Negara Berkembang
untuk negara berkembang, makro ekonomi dijalankan oleh negara, tapi lebih pada fasilitator, motivator, dinamisator dan regulator, private yang akan mengembangkan aspek mikro ekonominya.
3. Negara Terbelakang
untuk negara terbelakang, makro dan mikro ekonomi di jalankan oleh negara sedangkan private perannya adalah sebagai kepanjangan tangan dari negara.

lalu untuk Indonesia???
untuk Indonesia memang, makro dan mikro ekonomi masih menjadi tanggung jawab pemerintah, dan dunia usaha baik Badan Usaha Milik Negara / Daerah, Swasta merupakan peran dari private.
Jadi, sebenarnya makro ekonomi hanyalah tools untuk bisa menjalankan mikro ekonomi dengan baik. karena walau bagaimanapun makro ekonomi yang bagus seharusnya bisa meningkatkan juga mikro ekonominya.

04 December 2008

MSI (Method of Successive Interval)

Ketika melakukan penelitian mengunakan regresi, path analysis, atau yang sejenisnya maka data yang diperlukan adalah mempunyai skala interval. Tetapi sayangnya, kebanyakan dari data yang kita dapat (biasanya melalui kuesioner) itu mempunyai skala ordinal. sehingga dalam pengerjaannya data tersebut harus di tingkatkan dulu menjadi skala interval. Untuk keperluan ini, biasanya orang-orang (peneliti) menggunakan metode successive interval (MSI) yang pengerjaannya cukup rumit dan juga banyak orang yang kurang mengerti. Langkah-langkah pengerjaan MSI ini seperti yang dijelaskan oleh Harun Rasyid (1994:86) adalah :
1. Memperhatikan banyaknya (f) responden yang memberikan respon yang ada.

2. menentukan untuk setiap item hitungan frekuensi (f) jawaban, tentukan beberapa responden yang mendapat skor (1, 2, 3, 4, 5).

3. Tentukan proporsi (p) dengan frekuensi yang dibagi oleh banyaknya responden.

4. Menghitung proporsi kumulatif (pk).

5. Menghitung nilai Z, untuk setiap proporsi kumulatif yang diperoleh dengan menggunakan tabel normal.

6. Menghitung scale value (SV).

dengan langkah-langkah di atas, maka data yang tadinya berskala ordinal berubah menjadi skala interval.
Tetapi yang jadi pertanyaan adalah "Apakah dengan adanya teknologi seperti sekarang ini MSI masih di perlukan ?" Jawabannya adalah sudah tidak perlu lagi, karena berbagai macam software sudah dapat menghitung regresi, path analysis dan yang lainnya walaupun data tersebut berskala ordinal. Salah satu Software yang paling saya sukai adalah LISREL. Karena LISREL sudah powerfull untuk urusan ini, sehingga saya tidak perlu lagi mengubah data ordinal ke interval dalam melakukan regresi atau path analysis atau juga SEM (Structure equetion model).