24 April 2008

JEREMY BENTHAM (1748 – 1832)

Ekonom yang kedelapan dari lima puluh pemikir ekonomi dunia adalah Jeremy Bentham. Ia terutama terkenal sebagai filsafat dan pembaharu sosial, dan dalam bidang filsafat inilah Bentham menyumbang pemikiran untuk ilmu ekonomi. Sumbangan ini menyangkut dikenalnya gagasan utility (Kepuasan) ke dalam ilmu ekonomi. Bentham lahir di London pada tahun 1748. Ayahnya adalah jaksa yang kaya sehingga bisa memberikan pendidikan baik untuk anaknya. Sama seperti tokoh-tokoh besar dalam ilmu ekonomi, Bentham juga anak yang sangat cerdas. Everret (1931, hlm. 5) melaporkan bahwa Bentham bahkan mengenal abjad saat ia belum bisa bicara. Bentham belajar di sekolah Westminster di London. Ia mendaftar di perguruan tinggi Queen, Oxford pada usia 12 tahun dan memperoleh gelar sarjana pada tahun 1767 dan kemudian melanjutkan studi hukum, pertama di Lincoln’s Inn London kemudian di Oxford. Walaupun telah memperoleh izin sebagai pengacara pada tahun 1769 tetapi Bentham tidak pernah menjalankan praktik hukum ini. Hal ini sebagian disebabkan karena ia tidak suka dengan hukum. Namun sebab yang lebih penting adalah karena Bentham ingin mengubah dunia, atau setidaknya meningkatkan keadaan di Inggris. Dengan demikian Bentham tidak mengikuti jejak ayahnya namun ia justru banyak membaca teori-teori filsafat dan politik. Ia juga mengambil pesan sebagai pembaharu sosial, berusaha membujuk para pemimpin politik dan publik aga mengadopsi rencananya untuk meningkatkan kehidupan di Inggris.

Satu-satunya sumbangan Bentham yang signifikan untuk ilmu ekonomi adalah karyanya yang judulnya keliru, Defence of Ursury, yang diterbitkan pada tahun 1787 (dalam Stark 1952-4), vol.1, hlm. 124-207). Sejak abad pertengahan telah terjadi perdebatan sengit mengenai apakah batasan harus di tetapkan atas tingkat suku bunga. Dalam abad-abad yang lalu masalahnya terutama adalah apakah bermoral apabila kita mengenakan bunga untuk semua pinjaman. Pada akhir abad keduapuluh, masalah ini menjadi apakah plafon atau batas suku bunga seharusnya dikenakan pada kartu kredit ataukah pinjaman konsumen. Tapi, walaupun fokus perdebatan agak bergeser, posisi utamanya tetap tidak berubah. Salah satu sisi perdebatan tersebut adalah argumen bahwa peminjam adalah orang miskin yang sangat membutuhkan uang; karena itu mengenakan bunga menetapkan suku bunga yang tinggi berati mengambil keuntungan dari pihak yang lemah dan miskin. Di sisi yang lain dikatakan bahwa meminjamkan uang mengandung resiko. Karena itu dibutuhkan kompensasi untuk orang yang banyak meminjamkan uang tetapi tidak segera dibayar. Adam Smith (1776, hlm. 339) mendukung peraturan publik atas suku bunga melalui penentuan batas suku bunga. Bentham berpendapat bahwa hal ini tidak konsisten dengan prinsip laissez faire dari Adam Smith, dan ini menunjukkan bahwa “tidak ada alasan untuk mengatur harga penggunaan uang ketimbang harga barang” (Stark 1952-4, vol. 1, hlm. 125). Bentham juga berpendapat bahwa karena suatu kelompok setuju untuk membayar suku bunga yang tinggi maka sulit untuk menganggap bahwa riba adalah pelanggaran sehingga harus dilarang dengan undang-undang. Tetapi alasan utama penentangan undang-undang yang mengatur bunga adalah konsekuensi-konsekuensi negatif terhadap ekonomi yang akan mengikutinya. Pertama, orang-orang tidak akan meminjamkan uang mereka jika mereka tidak mendapatkan bunga dari pinjaman mereka. Kedua, undang-undang riba akan menghalangi pengusaha, dan juga orang miskin, dari meminjam uang. Ketiga, Bentham berpendapat bahwa jika orang miskin tidak bisa meminjam uang yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup mereka akan mencari cara lain, yang tidak diinginkan secara sosial, untuk mengamankan keuangannya. Keempat, Bentham berpendapat bahwa dengan membuat riba sebagai sesuatu yang ilegal justru akan menumbuhkan pasar gelap peminjaman yang bahkan dengan bunga yang sangat tinggi. Terakhir, dengan menganrisipasi ilmu ekonomi institusional yang baru Bentham berpendapat bahwa setiap undang-undang yang buruk seperti pelarangan riba akan menyebabkan orang-orang tidak menghormati hukum dan membahayakan hubungan sosial ekonomi. Setelah membaca buku Bentham, Adam Smith merasa bahwa dukungannya terhadap undang-undang riba adalah keliru, dan bahwa seharusnya tidak ada peraturan pemerintah mengenai bunga.

Sumbangan utama Bentham bukan karena alasan-alasannya yang menentang peraturan pemerintah tentang bunga, tetapi karyanya yang mengembangkan gagasan kepuasan dan membawa pertimbangan maksimalisasi kepuasan ke dalam analisa ekonomi. Orang-orang seangkatan Bentham telah menggunakan istilah utility dalam diskusi-diskusi hukum, politik, moral dan ekonomi. Tetapi semua gagasan ini tidak sesuai dan dan tidak tepat. Namun tidak jelas arti sebenarnya dari istilah ini dan bagaimana kepuasan itu diukur, atau bagaimana kepuasan-kepuasan yang berbeda dapat dibandingkan. Bentham bergulat dengan masalah ini dalam usahanya meletakkan ilmu-ilmu sosial atau ilmu-ilmu kemanusiaan pada jajaran ilmu-ilmu alam. Dengan usaha ini ia berharap usaha ini akan menjadi dunia moral dari Isaac Newton (Mitchell, 1950, hlm. 180). Bentham memulai karyanya, Introduction to the Principles of Morals and Legislation (1948, hlm. 1) dengan pernyataan yang tegas dan sering dikutip yang berkaitan dengan perilaku manusia: “Alam telah menempatkan umat manusia di bawah kekuasaan dari dua penguasa yang asing, kesedihan dan kesenangan.” Ia kemudian mendefinisikan prinsip kepuasan sebagai suatu prinsip moral—pertimbangan akan kesedihan dan kesenangan akan menentukan “apa yang seharusnya dilakukan,” dan hak-hak yang benar untuk dikerjakan adalah apa saja yang memaksimalkan kesenangan atau kesenangan total minuh kesedihan total. Bentham berpendapat bahwa ukuran semacam itu dibuat oleh setiap orang dan melibatkan tujuh pertimbangan dimensi kesenangan: 1) Instensitasnya, 2) Durasinya, 3) Kepastiannya, 4) Kedekatannya, 5) Kesuburannya, 6) Kemurniannya, dan 7) Jumlah individu yang terjangkau. Bentham menyebutkan empat belas kesenangan sederhana, termasuk kekayaan, keahlian, kekuasaan, nama baik, ingatan, imajinasi, kebaikan dan kedengkian; dan dua belas kesedihan termasuk kekecewaan, penyesalan dan keinginan. Ia juga mengidentifikasi berbagai faktor yang mempengaruhi kesenangan dan kesedihan seperti kesehatan, gender, usia, pendidikan, keteguhan pikiran. Jadi ketika rekan-rekan seangkatannya membicarakan istilah ini secara umum, Bentham telah berbicara secara kongkrit dan berusaha mengukur kepuasan ini dengan tepat dan spesifik.

Implikasi lebih jauh dari utilitarianisme adalah bahwa pendidikan dan undang-undang diperlukan untuk meningkatkan jumlah maksimum kebahagiaan dalam negara. Pendidikan itu penting karena bisa membuat orang mampu melakukan tugas menjumlahkan dan membandingkan kesenangan dan kesedihan yang berasal dari tindakan-tindakan yang berbeda-beda. Doktrin utilitarianisme juga membicarakan cara untuk menevaluasi kebijakan undang-undang pemerintah. Kalkulasi utilitarian adalah perintis penting dari analisis biaya keuntungan kontemporer. Karya Bentham, Manual of Political Economy mengandung penggunaan pertimbangan biaya keuntungan yang pertama kalinya untuk menjustifikasi pengluaran publik. Walaupun berguna sebagai petunjuk moral dan alat kebijakan, utilitarianisme juga menimbulkan banyak masalah yang akan memusingkan banyak ahli ekonomi generasi selanjutnya. Pertama, meskipun Bentham berjuang untuk mewujudkan gagasan kepuasan secara kongkret tetapi tidak jelas bagaimana seseorang dapat, dalam praktik, mengukur gagasan yang sulit dipahami ini. Juga tidak jelas bagaimana kita dapat, dalam praktik, membandingkan atau menjumlahkan kesenangan dan kesedihan yang berbeda-beda. Kedua, banyak orang telah mengkritik utilitarianisme yang menjadi doktrin yang tak bermoral, karena mengabaikan pandangan keadilan dan kejujuran dalam menilai tindakan pemerintah dan individu. Misalnya di bawah utilitarianisme, diskriminasi akan dibenarkan jika bisa menghasilkan kebahagiaan maksimum dalam negara. Terakhir, ada dugaan terjadi konflik antara pandangan Bentham tentang sifat manusia dengan pandangannya tentang moralitas.

Sebenarnya Bentham sadar akan adanya masalah dalam teorinya ini. Meskipun ada masalah di dalamnya, sistem ini adalah yang terbaik untuk mengorganisasikan masyarakat dan menjalankan pemerintahan. Satu-satunya alternatif adalah membiarkan orang-orang menggunakan standarnya sendiri-sendiri tentang bagaimana pemerintah dan masyarakat harus dijalankan; dan alternatif ini, menurut Bentham, hanya akan menimbulkan kekacuan dan anarki. Dengan memberikan penjelasn prinsip kepuasan secara mendetail, dan juga argumen bagi penggunaan gagasannya ini dalam analisis ekonomi, membuat Bentham dijuluki sebagai “Bapak Utilitarianisme.” Ia juga menjadi pemandu filosofis bagi banyak generasi ahli ekonomi yang mengikutinya.

Karya-karya Bentham

Economic Writing, ed. W.Stark, 3 vol. London, Allen & Unwin, 1952-4.

Manual of Political Economy, vol.2 dalam Bentham 1952-4.

Introduction to the Principles of Moral and Legislation, Riverside, New Jersey, Hafner, 1948.

Karya-karya Tentang Bentham

Everett. C.W. The Education of Jeremy Bentham, New York, Columbia University Press, 1931.

Halevy, Elie, The Growth of Philosophical Radicalisme, New York, Augustus Kelly, 1949.

Mitchell, Wesley C., “Bentham’s Felicific Calculus,” Political Science Quaterly, 33 (juni 1918), hlm. 161-83. Dicetak ulang dalam Backward Art of Spending Money and Other Essays, New York Augustus M. Kelley, 1950, hlm. 177-202.

Referensi Lain

Smith, Adam, The Wealth of Nations (1776), New York, Modern Library, 1937.


No comments: