Adam Smith merupakan ekonom ketujuh dari rencana 50 (lima puluh) ekonom dunia yang akan dituliskan disini. Nah, kalau untuk menceritakan yang satu ini saya harus lebih hati-hati. Karena selain ajarannya yang bagus, smith juga banyak sekali pengikutnya, jadi kalau salah sedikit saja saya pasti banyak di protes oleh pengikut-pengikutnya. Karena meskipun telah ada orang-orang yang menulis masalah-masalah dan prinsip-prinsip ilmu ekonomi sebelum dirinya, Adam Smith dianggap oleh hampir semua orang sebagai bapak ilmu ekonomi. Gelar ini bukan berasal dari keaslian gagasannya atau teknik analisis ekonomi yang dirintisnya, tetapi ia dianggap bapak ilmu ekonomi terutama berkaitan dengan visinya tentang kapitalisme sebagai sebuah sistem ekonomi yang membuat keadaan orang menjadi lebih baik. Smith adalah orang yang pertama melihat keuntungan yang berasal dari persaingan yang lebih luas dan memberikan argumen untuk kebijakan yang mempromosikan persaingan tersebut. Untuk itu diperlukan pengurangan keterlibatan pemerintah dalam kegiatan ekonomi dan juga tindakan pemerintah untuk melawan kecenderungan dan praktik monopoli.
Smith lahir di Kirkcaldy, kota kecil di dekat Edinburgh, Skotlandia pada tahun 1723. Ayahnya meninggal tak lama sebelum Smith lahir; sehingga ia dibesarkan oleh ibunya dan dijaga oleh orang kepercayaan ayahnya (Ross, 1995, hlm. 2). Meskipun sering sakit-sakitan pada masa kanak-kanak, Smith sangat gemar pada buku dan menjadi seorang kutu buku. Pada usia 14 tahun ia dikirim oleh orang tuanya ke Universitas Glasgow, dimana ia belajar filsafat moral, matematika dan ekonomi politik. Pada tahun 1740 ia memperoleh beasiswa ke Universitas Oxford dan belajar di Balliol College selama enam tahun berikutnya.
Smith merasakan suasana Oxford melemah secara intelektual. Tidak banyak pengajaran yang berlangsung dan hanya sedikit pelajaran yang di dapat. Karena hanya sedikit perkuliahan di fakultas, Smith dapat menghabiskan waktunya di perpustakaan untuk mengerjakan kegemarannya—yaitu membaca, khususnya bidang sastra, filsafat dan sejarah. Usulan Smith agar pengajar dibayar berdasarkan jumlah mahasiswa di kelas mereka mungkin lebih bersumber dari pengalaman buruknya di Oxford ketimbang dari keinginannya untuk memacu kompetisi antar anggota fakultas.
Pada tahun 1751 Smith diangkat untuk mengisi jabatan ketua jurusan Logika di Universitas Glasgow. Setahun kemudian ia mengambil alih Ketua Jurusan Filsafat Moral. Kuliahnya tentang etika banyak dihadiri dan menjadi karya pertamanya yang berhasil—The Theory of Moral Sentiments (Smith, 1759).
The Theory of Moral Sentiments mencoba menjelaskan bagaimana orang-orang menerima perasaan moral yang membuat mereka mampu membedakan antara yang benar dan yang salah. Jawabannya ditemukan dalam kemampuan seseorang untuk menempatkan diri mereka dalam posisi sebagai pengamat yang tidak berpihak. Hal ini membuat orang menilai tindakan tidak hanya dari sudut pandang kepentingan pribadi mereka sendiri, tetapi juga dari perspektif seorang pengamat yang obyektif. Sebagaimana nurani, kemampuan ini membuat orang bertindak dengan cara yang dapat dibenarkan secara moral.
Ketika Charles Townsend membaca The Theory of Moral Sentiments ia memutuskan lebih baik anak angkatnya, Pangeran Buccleuch, diajar oleh Smith. Jadi Townsend menyewa Smith dan karena itu Smith mengundurkan diri dari jabatan guru besar dari Glasgow untuk menemani bangsawan muda ini ke Perancis. Pekerjaan baru ini membuat Smith memiliki lebih banyak waktu luang untuk membaca dan merenung, Smith bisa bertemu dengan para tokoh mazhab Physiocrats, termasuk Francois Quesnay. Pada awal tahun 1764 Smith mulai menulis buku “untuk membunuh waktu” (Rae, 1895 hlm. 178), seperti yang ia tulis dalam suratnya untuk kawannya, David Hume.
The Wealth of Nation kemudian dipublikasikan tahun 1776, dan kemudian buku ini membuat Smith terkenal dan beruntung. Berlawanan dengan Theory of Moral Sentiment, buku The Wealth of Nations mengasumsikan bahwa orang bertindak sesuai dengan kepentingan dirinya sendiri. Tetapi dalam buku ini, ia berpendapat bahwa tindakan mementingkan diri dari individu akan menghasilkan kebaikan publik. Dalam bagian yang terkenal Smith ([1776] 1937, hlm. 423) menggambarkan proses ini : “ia...hanya bermaksud untuk menguntungkan dirinya sendiri ... [tetapi] ... dengan dibimbing oleh tangan yang tak tampak (invisible hand) ia akan mempromosikan suatu tujuan yang bukan bagian dari kehendaknya. “Tujuan yang tidak diinginkan ini adalah pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan standar hidup bagi bangsa secara keseluruhan”.
The Wealth of Nations menganalisa apa yang menyebabkan standar hidup nasional meningkat dan menunjukkan bagaimana kepentingan diri dan persaingan berperan dalam pertumbuhan ekonomi. Ia juga meneliti bagaimana pemerintah mempengaruhi kinerja ekonomi. Studi prinsip-prinsip ekonomi ini juga menghasilkan serangan kepada teori dan kebijakan ekonomi dari kaum merkantilis. Menurut Smith yang membuat pertumbuhan ekonomi bisa berjalan adalah proses mekanisme dan pembagian kerja. Karena hidup pada permulaan revolusi Inggris, Smith menyaksikan dengan mata kepala sendiri konsekuensi-konsekuensi ekonomi dari inovasi teknologi. Pada tahun 1730 mesin tenun ditemukan, yang lebih efisien daripada menenun dengan tangan dan karenanya membuat proses penenunan lebih cepat. Pada tahun 1769 mesin pemintal ditemukan yang membuat orang bisa memintal benang beberapa kali secara bersamaan. Penemuan-penemuan ini, dan juga inovasi teknologi lainnya, membuat produktivitas pekerja individual menjadi berlipat ganda ketimbang saat tidak ada bantuan dari mesin-mesin tersebut.
The Wealth of nations mulai mununjukkan bagaimana pembagian kerja ini bisa membuat produktivitas pekerja meningkat. Smith melaporkan bahwa ia melihat pabrik peniti dimana sepuluh orang yang masing-masing diberi bagian tugas-tugas yang berbeda-beda dan mampu memproduksi lebih dari 48.000 peniti per hari. Tetapi jika orang-orang ini harus bekerja terpisah dan secara independen, Smith mengatakan mereka tidak akan mampu memproduksi lebih dari 20 peniti. Jadi pembagian kerja menghasilkan peningkatan produksi peniti sekitar 2000 kali lipat. Dengan membagi tugas, para pekerja menjadi lebih produktif karena berbagai alasan. Pertama, dengan memusatkan diri hanya pada satu tugas, keahlian dan ketangkasan pekerja individu meningkat dan para pekerja melakukan mereka lebih cepat. Kedua, dengan menyerahkan satu tugas ke tugas lainnya waktu bisa dihemat. Ketiga, ketika memfokuskan pada satu pekerjaan, para pekerja akan lebih ahli dalam peralatan kerja dan membuat dirinya bisa memproduksi lebih banyak dengan usaha yang lebih sedikit.
Smith merasa bahwa kecenderungan alami orang-orang untuk meningkatkan kondisi materinya (yaitu kepentingan diri) adalah daya pendorong dibalik pembagian kerja dan menghasilkan peningkatan dalam produktivitas. Tetapi Smith mengakui batas penting dari pembagian kerja. Jika perusahaan tidak bisa menjual peniti tambahan yang mereka buat, maka tidak akan ada dorongan untuk membagi tugas-tugas produksi, menggunakan lebih banyak mesin dan meningkatkan jumlah produksi peniti. Karena itu sangat penting untuk memperluas pasar barang Inggris. Untuk tujuan ini Smith mendukung perdagangan bebas internasional antar negara. Perdagangan bebas akan membuat perusahaan Inggris tidak hanya menjual barang mereka di dalam negeri tetapi juga di dalam arena internasional. Lebih jauh lagi, Smith berpendapat bahwa perdagangan bebas akan menguntungkan Inggris karena akan membuat perusahaan mendapatkan barang-barang yang lebih murah dari luar negeri. Hal ini pada gilirannya akan menurunkan biaya produksi barang ekspor.
Ajaran perdagangan bebas pada dasarnya dikembangkan menjadi kritik terhadap merkantilisme. Karena merkantilis menginginkan pembatasan dalam perdagangan, kebijakan mereka akan membatasi pasar untuk produsen domestik dan menghalangi peningkatan standar hidup Inggris. Menurut Smith, merkantilis juga keliaru tentang perolehan keuntungan dari koloni-koloni Inggris di Dunia Baru. Inggris tidak untung karena menjual barang-barang ke Amerika dan mendapatkan emas sebagai gantinya, tetapi Inggris untung karena menjual barang dengan jumlah yang lebih banyak, membagi tugas yang dikerjakan para pekerja, dan lebih banyak lagi memproduksi barang-barang dengan tenaga kerja yang sama. Tetapi Smith tidak memberikan dukungan total terhadap perdagangan bebas. Karena pertahanan nasional lebih penting ketimbang kekayaan nasional, Smith ([1776] 1937, hlm. 429) menentang perdagangan jika hal ini mungkin memperkuat militer di negara selain Inggris atau mengurangi kekuatan militer Inggris. Karena itu Smith mendukung Undang-Undang Pelayaran Inggris. Undang-Undang ini memaksa kapal-kapal Amerika berhenti di Inggris sebelum barang tersebut dibawa ke tujuan akhir mereka di Eropa. Smith beralasan bahwa kebijakan ini akan meningkatkan jumlah kapal Inggris dan jumlah pelaut yang terlatih; di masa perang dua aset ini akan menjadi penting untuk pertahanan suatu daerah kepulauan seperti Inggris.
Di pihak lain Smith menentang penerapan tarif untuk membalas negara-negara yang menerapkan pembatasan atas penjualan barang-barang Inggris; ia menyatakan bahwa sebuah kebijakan yang buruk tidak akan membenarkan kebijakan buruk lainnya. Smith berpendapat bahwa setiap pekerja Inggris yang kehilangan pekerjaan karena perdagangan bebas akan segera memperoleh pekerjaa baru dengan upah yang lebih baik sepanjang pengendalian serikar kerja dan peraturan magang tidak mencegah buruh untuk pergi ke daerah baru dan lebih produktif. Sadar bahwa hal ini tidak akan segera terjadi di dunia nyata, Smith lebih mendukung penurunan tarif protektif secara gradual ketimbang penghilangan tarif secara langsung, sehingga proses transisi dapat berjalan dengan pelan dan lancar. Smith juga menolak arguman industri bayi (infant industry argument) tentang tarif protektif yang terkenal itu. Argumen ini menyatakan bahwa proteksionisme diperlukan bagi negara yang baru saja mengembangkan industri tertentu. Karena perusahaan domestik baru masih kurang pengalaman dan pengetahuan dalam produksi barang ketimbang perusahaan asing yang sudah mapan, maka perusahaan domestik akan menghadapi kerugaian kompetitif dibandingkan dengan pesaing asing mereka. Jika suatu negara hendak mengembangkan keahlian produkusi dalam industri baru, perusahaan domestik harus memperoleh proteksi sampai mereka mendapatkan pengalaman yang memadai. Smith ([1776] 1937, hlm. 425) menentang argumen ini karena menciptakan monopoli yang tidak efisien dan mengalihkan sumber-sumber daya yang terbesar kepada monopoli ini.
Monopoli adalah musuh dari perdagangan bebas, menghambat peluasan pasar untuk barang-barang Inggris dan menghalangi pertumbuhan ekonomi yang pesat. Smith mengidentifikasi empat efek negatif dari monopoli akan mengakibatkan harga tinggi bagi konsumen dan membuat keadaan konsumen lebih buruk. Smith ([1776] 1937, hlm. 128) menandaskan bahwa pengusaha mempunyai kecenderungan berkumpul dan memikirkan rencana untuk kenaikkan harga barang dan jasa mereka. Semakin besar ukuran mereka akan mempermudah perusahaan ini untuk berkomplot merugikan publik dengan menaikkan harga. Kedua Smith berpendapat bahwa monopolo adalah “musuh besar manajemen yang baik.” Ia percaya bahwa kompetisi mendorong manajer beroperasi seefisien mungkin dan mencari cara untuk meningkatkan efisiensi kegiatan mereka. Ketiga, Smith menegaskan bahwa ketimbang perusahaan kompetitif, monopoli lebih besar kemungkinannya untuk menekan pemerintah agar mendukung posisi monopoli mereka dan lebih mungkin sukses dalam upayanya ini. Hal ini akan memunculkan undang-undang buruk dan menindas. Terakhir, Smith mencatat bahwa monopoli akan mengakibatkan misalokasi sumber-sumber daya. Karena mereka bisa menetapkan harga tinggi, monopoli akan mendapatkan keuntunga besar. Hal ini akan memacu produksi. Karena itu sumber-sumber daya akan dipakai untuk membuat barang bukan karena barang-barang itu dibutuhkan oleh banyak orang, dan bukan karena ada banyak kemungkinan untuk meningkatkan pembagian kerja dan mengurangi biaya, tetapi semata-mata karena keberadaan monopoli. Kritik monopoli ini juga beralih pada kritik terhadap merkantilisme. Karena kebijakan merkantilisme menghalangi persaingan luar negeri maka kebijakan ini akan membantu meningkatkan monopoli nasional. Karena itu mereka akan merugikan konsumen dan sangat menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.
Meskipun secara umum dianggap sebagai wali pelingdung ekonomi laissez-faire dan lawan dari pemerintah, Smith tidak sepenuhnya menentang semua intervensi pemerintah dalam persoalan-persoalan ekonomi. Sebenarnya ia mengakui empat fungsi penting dari pemerintah. Pertama, mencegah monopoli atau menjamin lingkungan yang kompetitif. Kedua, Smith mengakui bahwa hanya pemerintah yang dapat memberikan pertahanan seluruh negara dari ancaman luar negeri. Ketiga, pemerintah harus memberikan ketertiban dan keamanan internal; yaitu, pemerintah harus melindungi semua anggota masyarakat dari setiap anggota masyarakat lainnya. Terakhir, Smith membuka pintu, yang kemudian disesali oleh Milton Friedman (1977) dan para pemikir konservatif lainnya, dengan menyetujui ketentuan pemerintah atas barang publik yang berhubungan dengan `eksternalitas` (externalities) dalam jumlah yang besar.
Selain menjelaskan bagaimana ekonomi tumbuh, Smith juga berusaha menjelaskan bagaimana pendapatan dipisahkan dari produksi barang dan jasa. Sebagaimana ahli-ahli ekonomi pertama yang berusaha menerangkan prinsip-prinsip penentuan distribusi pendapatan, Smith juga memberikan sumbangan. Sumbangan-sumbangan ini berpusat di sekitar analisisnya tentang apa yang menentukan harga barang dan apa yang menentukan penghasilan yang didapatkan oleh mereka yang memproduksi barang tersebut. Smith mulai dengan membedakan harga pasar barang dari harga barang alami. Harga pasar adalah yang dibayar orang-orang dalam transaksi ekonomi sehari-hari. Harga pasar ditentukan oleh kuantitas tetap dari barang yang dibawa kepasar dan oleh permintaan atas barang tersebut. Sebaliknya, harga barang alami adalah harga keseimbangan (equilibrium), atau harga yang dituju oleh gerak atau kecenderungan harga pasar.
Ucapan-ucapannya tentang sewa alamiah cukup membingungkan. Pada satu kesempatan Smith menganggap sewa sebagai harga monopoli, yang dihasilkan dari tanah yang merupakan sumber daya langka. Pada kesempatan lainnya ia menganggap bahwa sewa sebagai pembayaran untuk surplus output yang diperoleh dari penggunaan tanah yang ditanami sesuatu. Namun pada kesempatan lainnya lagi Smith membayangkan suatu teori sewa diferensial, dimana sewa adalah pembayaran untuk pemilik tanah yang lebih produkstif. Teori keuntungan alamiah Smith bahkan lebih tidak memuaskan daripada teori sewa alamiahnya ini. Smith mengatakan bahwa keuntungan alamiah adalah pengembalian modal, yang dihasilkan dari simpanan. Tetapi ini hanyalah definisi dari keuntungan alamiah; ini tidak menjelaskan apa yangmenentukan tingkat laba alamiah. Untuk menjelaskan upah, Smith mengembangkan teori upah subsistensi, doktrin yang kemudian mendominasi analisis ekonomi selama berabad-abad setelah publikasi The Welath of Nations. Menurut pandangan ini upah alamiah adalah upah yang cukup untuk membuat pekerja bertahan hidup dan berproduksi.
Entah itu Smith merupakan bapak ekonomi atau tidak, yang jelas ia adalah bapak dari bidang ilmu ekonomi yang kini dikenal sebagai “Keuangan Publik”. Seperti yang telah kita lihat dimuka, The Wealth of Nations menggambarkan peran pemerintah yang tepat dalam menggambarkan perekonomian. Buku ini juga mendiskusian bagaimana pemerintah dapat meningkatkan pendapatan dengan cara yang terbaik. Dengan adanya keputusan pengeluaran publik, maka dana harus dinaikkan melalui sistem pajak untuk membiayai pengeluaran ini. Smith meletakkan empat aturan atau persyaratan untuk menetapkan pajak atas publik. Pertama, ia berpendapat bahwa pajak seharusnya proporsional, yang berarti bahwa semua orang membayar pajak dalam prosentase yang sama dari pendapatan mereka. Kedua, Smith menyatakan bahwa pembayar pajak harus mengetahui tentang pajak mereka. Mereka seharusnya mengetahui terlebih dahulu berapa yang mereka punya dan kapan pembayaran pajak mesti dilunasi. Prinsip ketiga dari sistem pajak adalah pajak seharusnya ditarik pada saat, dan dengan cara, yang paling sesuai bagi orang-orang untuk membayarnya. Terakhir atau keempat, Smith berpendapat bahwa pajak yang terbaik adalah yang paling sedikit membutuhkan biaya pengumpulannya. Semua prinsip ini dirancang untuk menghasilkan pertumbuhan maksimum, atau agar pajak tidak membahayakan pertumbuhan ekonomi.
Bersama dengan Marx dan Keynes, Smith merupakan salah seorang dari tiga tokoh penting dalam ilmu ekonomi. Visinya adalah, dari kepentingan pribadi dan kepentingan nasional dalam harmoni yang sempurna akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran yang terus-menerus. Satu-satunya masalah potensial adalah intervensi pemerintah dalam pasar bebas, praktik monopoli oleh pengusaha, atau kebijakan pajak yang buruk. Karena itu Smith mengeluarkan argumen menentang pembatasan perdagangan dari kaum merkantilis dan menginginkan agar pemerintah Inggris mengendalikan monopoli dan memperhatikan dengan seksama cara-cara menarik pajak dari warga negaranya. Visi Smith adalah visi yang optimis mengenai kapitalisme kompetitif yang akan meningkatkan standar hidup dan membuat keadaan semua orang menjadi lebih baik. Sejak The Wealth of Nations diterbitkan, visi-visi ini, sampai tingkat tertentu, menjadi kenyataan, meskipun tidak terjadi dengan cepat dan tidak mudah dilakukan. Yang didak dilihat oleh Smith adalah rangkaian masalah serius dan mendalam yang akan mengiringi pertumbuhan ekonomi—pengangguran, polusi, kemiskinan buruh di Inggris, dan memburuknya kota-kota industri Inggris. Inilah masalah-masalah yang harus ditangani oleh para penerus Smith.
Saya sendiri sangat mengagumi pemikiran-pemikiran Smith, dan salah seorang yang mengidolakan Adam Smith. Sehingga, saya sendiri menyarankan agar pemerintah Indonesia sendiri instropeksi diri dan menganalisis kembali dengan memperhatikan pemikiran-pemikiran Smith (walaupun pemikiran lama) terutama untuk masalah monopoli. Karena kita sendiri bisa melihat bagaimana perusahaan-perusahaan BUMN yang memonopoli pasar di Indonesia ini sangat buruk sekali manajemennya, hal ini bisa dilihat ketika mulai tumbuhnya para pesaing. Mereka kebanyakan kurang siap dalam menghadapi persaingan, karena sudah terbiasa dengan menejemen yang “buruk” tersebut. Kita bisa mengambil contoh perusahaan-perusahaan seperti telkom, pertamina, dan PLN. Karena sudah terbiasa dengan memonopoli pasar, sehingga mereka kurang siap dalam menghadapi persaingan yang sekarang sudah mulai bermunculan, bahkan untuk dunia komunikasi sekarang bisa dikatakan sudah memasuki persaingan yang chaos, karena itu apabila telkom tidak memperbaiki manajemenya sesegera mungkin, maka mereka akan tertinggal oleh perusahaan-perusahaan swasta yang lain yang memang sudah siap dalam menghadapi persaingan yang ketat. Selain itu, perusahaan lain seperti pertamina dan PLN harus dimulai dari sekarang untuk melakukan perubahan manajemen yang lebih baik lagi agar siap menghadapi persaingan. Selain itu, instansi pemerintah lain juga harus melakukan perbaikan-perbaikan manajemen agar berorientasi pada konsumen dalam hal ini adalah masyarakat. Sehingga, diharapkan akan instansi yang menjadi public services dan tujuan untuk menuju GCG dapat tercapai.
Karya-karya Smith
The Thoery of Moral Sentiment (1759), New York, Aurust M. Kelley, 1966.
Lectures on Justice, Police, Revenue, and Arms (Catatan mahasiswa tahun 1763), New York, August M. Kelley, 1964.
An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (1776), New York, Modern Library, 1937.
Karya-karya Tentang Smith
Friedman, Milton, “Adam Smith’s Relevance for Today,” Challenge, 20, 2 (Maret-April 1977), hlm. 6-12.
Hetzel, Robert, The Relevance of Adam Smith, Richmond, Virginia, Federal Reserve Bank of Richmond, 1977.
Hollander, Samuel, The Economic of Adam Smith, Toronto, University of Toronto Press, 1973.
Rea, John, The Life of Adam Smith, London, Macmillan, 1895.
Ross, Ian Simpson, The Life of Adam Smith, Oxford, Clarendon Press, 1995.
Smith lahir di Kirkcaldy, kota kecil di dekat Edinburgh, Skotlandia pada tahun 1723. Ayahnya meninggal tak lama sebelum Smith lahir; sehingga ia dibesarkan oleh ibunya dan dijaga oleh orang kepercayaan ayahnya (Ross, 1995, hlm. 2). Meskipun sering sakit-sakitan pada masa kanak-kanak, Smith sangat gemar pada buku dan menjadi seorang kutu buku. Pada usia 14 tahun ia dikirim oleh orang tuanya ke Universitas Glasgow, dimana ia belajar filsafat moral, matematika dan ekonomi politik. Pada tahun 1740 ia memperoleh beasiswa ke Universitas Oxford dan belajar di Balliol College selama enam tahun berikutnya.
Smith merasakan suasana Oxford melemah secara intelektual. Tidak banyak pengajaran yang berlangsung dan hanya sedikit pelajaran yang di dapat. Karena hanya sedikit perkuliahan di fakultas, Smith dapat menghabiskan waktunya di perpustakaan untuk mengerjakan kegemarannya—yaitu membaca, khususnya bidang sastra, filsafat dan sejarah. Usulan Smith agar pengajar dibayar berdasarkan jumlah mahasiswa di kelas mereka mungkin lebih bersumber dari pengalaman buruknya di Oxford ketimbang dari keinginannya untuk memacu kompetisi antar anggota fakultas.
Pada tahun 1751 Smith diangkat untuk mengisi jabatan ketua jurusan Logika di Universitas Glasgow. Setahun kemudian ia mengambil alih Ketua Jurusan Filsafat Moral. Kuliahnya tentang etika banyak dihadiri dan menjadi karya pertamanya yang berhasil—The Theory of Moral Sentiments (Smith, 1759).
The Theory of Moral Sentiments mencoba menjelaskan bagaimana orang-orang menerima perasaan moral yang membuat mereka mampu membedakan antara yang benar dan yang salah. Jawabannya ditemukan dalam kemampuan seseorang untuk menempatkan diri mereka dalam posisi sebagai pengamat yang tidak berpihak. Hal ini membuat orang menilai tindakan tidak hanya dari sudut pandang kepentingan pribadi mereka sendiri, tetapi juga dari perspektif seorang pengamat yang obyektif. Sebagaimana nurani, kemampuan ini membuat orang bertindak dengan cara yang dapat dibenarkan secara moral.
Ketika Charles Townsend membaca The Theory of Moral Sentiments ia memutuskan lebih baik anak angkatnya, Pangeran Buccleuch, diajar oleh Smith. Jadi Townsend menyewa Smith dan karena itu Smith mengundurkan diri dari jabatan guru besar dari Glasgow untuk menemani bangsawan muda ini ke Perancis. Pekerjaan baru ini membuat Smith memiliki lebih banyak waktu luang untuk membaca dan merenung, Smith bisa bertemu dengan para tokoh mazhab Physiocrats, termasuk Francois Quesnay. Pada awal tahun 1764 Smith mulai menulis buku “untuk membunuh waktu” (Rae, 1895 hlm. 178), seperti yang ia tulis dalam suratnya untuk kawannya, David Hume.
The Wealth of Nation kemudian dipublikasikan tahun 1776, dan kemudian buku ini membuat Smith terkenal dan beruntung. Berlawanan dengan Theory of Moral Sentiment, buku The Wealth of Nations mengasumsikan bahwa orang bertindak sesuai dengan kepentingan dirinya sendiri. Tetapi dalam buku ini, ia berpendapat bahwa tindakan mementingkan diri dari individu akan menghasilkan kebaikan publik. Dalam bagian yang terkenal Smith ([1776] 1937, hlm. 423) menggambarkan proses ini : “ia...hanya bermaksud untuk menguntungkan dirinya sendiri ... [tetapi] ... dengan dibimbing oleh tangan yang tak tampak (invisible hand) ia akan mempromosikan suatu tujuan yang bukan bagian dari kehendaknya. “Tujuan yang tidak diinginkan ini adalah pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan standar hidup bagi bangsa secara keseluruhan”.
The Wealth of Nations menganalisa apa yang menyebabkan standar hidup nasional meningkat dan menunjukkan bagaimana kepentingan diri dan persaingan berperan dalam pertumbuhan ekonomi. Ia juga meneliti bagaimana pemerintah mempengaruhi kinerja ekonomi. Studi prinsip-prinsip ekonomi ini juga menghasilkan serangan kepada teori dan kebijakan ekonomi dari kaum merkantilis. Menurut Smith yang membuat pertumbuhan ekonomi bisa berjalan adalah proses mekanisme dan pembagian kerja. Karena hidup pada permulaan revolusi Inggris, Smith menyaksikan dengan mata kepala sendiri konsekuensi-konsekuensi ekonomi dari inovasi teknologi. Pada tahun 1730 mesin tenun ditemukan, yang lebih efisien daripada menenun dengan tangan dan karenanya membuat proses penenunan lebih cepat. Pada tahun 1769 mesin pemintal ditemukan yang membuat orang bisa memintal benang beberapa kali secara bersamaan. Penemuan-penemuan ini, dan juga inovasi teknologi lainnya, membuat produktivitas pekerja individual menjadi berlipat ganda ketimbang saat tidak ada bantuan dari mesin-mesin tersebut.
The Wealth of nations mulai mununjukkan bagaimana pembagian kerja ini bisa membuat produktivitas pekerja meningkat. Smith melaporkan bahwa ia melihat pabrik peniti dimana sepuluh orang yang masing-masing diberi bagian tugas-tugas yang berbeda-beda dan mampu memproduksi lebih dari 48.000 peniti per hari. Tetapi jika orang-orang ini harus bekerja terpisah dan secara independen, Smith mengatakan mereka tidak akan mampu memproduksi lebih dari 20 peniti. Jadi pembagian kerja menghasilkan peningkatan produksi peniti sekitar 2000 kali lipat. Dengan membagi tugas, para pekerja menjadi lebih produktif karena berbagai alasan. Pertama, dengan memusatkan diri hanya pada satu tugas, keahlian dan ketangkasan pekerja individu meningkat dan para pekerja melakukan mereka lebih cepat. Kedua, dengan menyerahkan satu tugas ke tugas lainnya waktu bisa dihemat. Ketiga, ketika memfokuskan pada satu pekerjaan, para pekerja akan lebih ahli dalam peralatan kerja dan membuat dirinya bisa memproduksi lebih banyak dengan usaha yang lebih sedikit.
Smith merasa bahwa kecenderungan alami orang-orang untuk meningkatkan kondisi materinya (yaitu kepentingan diri) adalah daya pendorong dibalik pembagian kerja dan menghasilkan peningkatan dalam produktivitas. Tetapi Smith mengakui batas penting dari pembagian kerja. Jika perusahaan tidak bisa menjual peniti tambahan yang mereka buat, maka tidak akan ada dorongan untuk membagi tugas-tugas produksi, menggunakan lebih banyak mesin dan meningkatkan jumlah produksi peniti. Karena itu sangat penting untuk memperluas pasar barang Inggris. Untuk tujuan ini Smith mendukung perdagangan bebas internasional antar negara. Perdagangan bebas akan membuat perusahaan Inggris tidak hanya menjual barang mereka di dalam negeri tetapi juga di dalam arena internasional. Lebih jauh lagi, Smith berpendapat bahwa perdagangan bebas akan menguntungkan Inggris karena akan membuat perusahaan mendapatkan barang-barang yang lebih murah dari luar negeri. Hal ini pada gilirannya akan menurunkan biaya produksi barang ekspor.
Ajaran perdagangan bebas pada dasarnya dikembangkan menjadi kritik terhadap merkantilisme. Karena merkantilis menginginkan pembatasan dalam perdagangan, kebijakan mereka akan membatasi pasar untuk produsen domestik dan menghalangi peningkatan standar hidup Inggris. Menurut Smith, merkantilis juga keliaru tentang perolehan keuntungan dari koloni-koloni Inggris di Dunia Baru. Inggris tidak untung karena menjual barang-barang ke Amerika dan mendapatkan emas sebagai gantinya, tetapi Inggris untung karena menjual barang dengan jumlah yang lebih banyak, membagi tugas yang dikerjakan para pekerja, dan lebih banyak lagi memproduksi barang-barang dengan tenaga kerja yang sama. Tetapi Smith tidak memberikan dukungan total terhadap perdagangan bebas. Karena pertahanan nasional lebih penting ketimbang kekayaan nasional, Smith ([1776] 1937, hlm. 429) menentang perdagangan jika hal ini mungkin memperkuat militer di negara selain Inggris atau mengurangi kekuatan militer Inggris. Karena itu Smith mendukung Undang-Undang Pelayaran Inggris. Undang-Undang ini memaksa kapal-kapal Amerika berhenti di Inggris sebelum barang tersebut dibawa ke tujuan akhir mereka di Eropa. Smith beralasan bahwa kebijakan ini akan meningkatkan jumlah kapal Inggris dan jumlah pelaut yang terlatih; di masa perang dua aset ini akan menjadi penting untuk pertahanan suatu daerah kepulauan seperti Inggris.
Di pihak lain Smith menentang penerapan tarif untuk membalas negara-negara yang menerapkan pembatasan atas penjualan barang-barang Inggris; ia menyatakan bahwa sebuah kebijakan yang buruk tidak akan membenarkan kebijakan buruk lainnya. Smith berpendapat bahwa setiap pekerja Inggris yang kehilangan pekerjaan karena perdagangan bebas akan segera memperoleh pekerjaa baru dengan upah yang lebih baik sepanjang pengendalian serikar kerja dan peraturan magang tidak mencegah buruh untuk pergi ke daerah baru dan lebih produktif. Sadar bahwa hal ini tidak akan segera terjadi di dunia nyata, Smith lebih mendukung penurunan tarif protektif secara gradual ketimbang penghilangan tarif secara langsung, sehingga proses transisi dapat berjalan dengan pelan dan lancar. Smith juga menolak arguman industri bayi (infant industry argument) tentang tarif protektif yang terkenal itu. Argumen ini menyatakan bahwa proteksionisme diperlukan bagi negara yang baru saja mengembangkan industri tertentu. Karena perusahaan domestik baru masih kurang pengalaman dan pengetahuan dalam produksi barang ketimbang perusahaan asing yang sudah mapan, maka perusahaan domestik akan menghadapi kerugaian kompetitif dibandingkan dengan pesaing asing mereka. Jika suatu negara hendak mengembangkan keahlian produkusi dalam industri baru, perusahaan domestik harus memperoleh proteksi sampai mereka mendapatkan pengalaman yang memadai. Smith ([1776] 1937, hlm. 425) menentang argumen ini karena menciptakan monopoli yang tidak efisien dan mengalihkan sumber-sumber daya yang terbesar kepada monopoli ini.
Monopoli adalah musuh dari perdagangan bebas, menghambat peluasan pasar untuk barang-barang Inggris dan menghalangi pertumbuhan ekonomi yang pesat. Smith mengidentifikasi empat efek negatif dari monopoli akan mengakibatkan harga tinggi bagi konsumen dan membuat keadaan konsumen lebih buruk. Smith ([1776] 1937, hlm. 128) menandaskan bahwa pengusaha mempunyai kecenderungan berkumpul dan memikirkan rencana untuk kenaikkan harga barang dan jasa mereka. Semakin besar ukuran mereka akan mempermudah perusahaan ini untuk berkomplot merugikan publik dengan menaikkan harga. Kedua Smith berpendapat bahwa monopolo adalah “musuh besar manajemen yang baik.” Ia percaya bahwa kompetisi mendorong manajer beroperasi seefisien mungkin dan mencari cara untuk meningkatkan efisiensi kegiatan mereka. Ketiga, Smith menegaskan bahwa ketimbang perusahaan kompetitif, monopoli lebih besar kemungkinannya untuk menekan pemerintah agar mendukung posisi monopoli mereka dan lebih mungkin sukses dalam upayanya ini. Hal ini akan memunculkan undang-undang buruk dan menindas. Terakhir, Smith mencatat bahwa monopoli akan mengakibatkan misalokasi sumber-sumber daya. Karena mereka bisa menetapkan harga tinggi, monopoli akan mendapatkan keuntunga besar. Hal ini akan memacu produksi. Karena itu sumber-sumber daya akan dipakai untuk membuat barang bukan karena barang-barang itu dibutuhkan oleh banyak orang, dan bukan karena ada banyak kemungkinan untuk meningkatkan pembagian kerja dan mengurangi biaya, tetapi semata-mata karena keberadaan monopoli. Kritik monopoli ini juga beralih pada kritik terhadap merkantilisme. Karena kebijakan merkantilisme menghalangi persaingan luar negeri maka kebijakan ini akan membantu meningkatkan monopoli nasional. Karena itu mereka akan merugikan konsumen dan sangat menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.
Meskipun secara umum dianggap sebagai wali pelingdung ekonomi laissez-faire dan lawan dari pemerintah, Smith tidak sepenuhnya menentang semua intervensi pemerintah dalam persoalan-persoalan ekonomi. Sebenarnya ia mengakui empat fungsi penting dari pemerintah. Pertama, mencegah monopoli atau menjamin lingkungan yang kompetitif. Kedua, Smith mengakui bahwa hanya pemerintah yang dapat memberikan pertahanan seluruh negara dari ancaman luar negeri. Ketiga, pemerintah harus memberikan ketertiban dan keamanan internal; yaitu, pemerintah harus melindungi semua anggota masyarakat dari setiap anggota masyarakat lainnya. Terakhir, Smith membuka pintu, yang kemudian disesali oleh Milton Friedman (1977) dan para pemikir konservatif lainnya, dengan menyetujui ketentuan pemerintah atas barang publik yang berhubungan dengan `eksternalitas` (externalities) dalam jumlah yang besar.
Selain menjelaskan bagaimana ekonomi tumbuh, Smith juga berusaha menjelaskan bagaimana pendapatan dipisahkan dari produksi barang dan jasa. Sebagaimana ahli-ahli ekonomi pertama yang berusaha menerangkan prinsip-prinsip penentuan distribusi pendapatan, Smith juga memberikan sumbangan. Sumbangan-sumbangan ini berpusat di sekitar analisisnya tentang apa yang menentukan harga barang dan apa yang menentukan penghasilan yang didapatkan oleh mereka yang memproduksi barang tersebut. Smith mulai dengan membedakan harga pasar barang dari harga barang alami. Harga pasar adalah yang dibayar orang-orang dalam transaksi ekonomi sehari-hari. Harga pasar ditentukan oleh kuantitas tetap dari barang yang dibawa kepasar dan oleh permintaan atas barang tersebut. Sebaliknya, harga barang alami adalah harga keseimbangan (equilibrium), atau harga yang dituju oleh gerak atau kecenderungan harga pasar.
Ucapan-ucapannya tentang sewa alamiah cukup membingungkan. Pada satu kesempatan Smith menganggap sewa sebagai harga monopoli, yang dihasilkan dari tanah yang merupakan sumber daya langka. Pada kesempatan lainnya ia menganggap bahwa sewa sebagai pembayaran untuk surplus output yang diperoleh dari penggunaan tanah yang ditanami sesuatu. Namun pada kesempatan lainnya lagi Smith membayangkan suatu teori sewa diferensial, dimana sewa adalah pembayaran untuk pemilik tanah yang lebih produkstif. Teori keuntungan alamiah Smith bahkan lebih tidak memuaskan daripada teori sewa alamiahnya ini. Smith mengatakan bahwa keuntungan alamiah adalah pengembalian modal, yang dihasilkan dari simpanan. Tetapi ini hanyalah definisi dari keuntungan alamiah; ini tidak menjelaskan apa yangmenentukan tingkat laba alamiah. Untuk menjelaskan upah, Smith mengembangkan teori upah subsistensi, doktrin yang kemudian mendominasi analisis ekonomi selama berabad-abad setelah publikasi The Welath of Nations. Menurut pandangan ini upah alamiah adalah upah yang cukup untuk membuat pekerja bertahan hidup dan berproduksi.
Entah itu Smith merupakan bapak ekonomi atau tidak, yang jelas ia adalah bapak dari bidang ilmu ekonomi yang kini dikenal sebagai “Keuangan Publik”. Seperti yang telah kita lihat dimuka, The Wealth of Nations menggambarkan peran pemerintah yang tepat dalam menggambarkan perekonomian. Buku ini juga mendiskusian bagaimana pemerintah dapat meningkatkan pendapatan dengan cara yang terbaik. Dengan adanya keputusan pengeluaran publik, maka dana harus dinaikkan melalui sistem pajak untuk membiayai pengeluaran ini. Smith meletakkan empat aturan atau persyaratan untuk menetapkan pajak atas publik. Pertama, ia berpendapat bahwa pajak seharusnya proporsional, yang berarti bahwa semua orang membayar pajak dalam prosentase yang sama dari pendapatan mereka. Kedua, Smith menyatakan bahwa pembayar pajak harus mengetahui tentang pajak mereka. Mereka seharusnya mengetahui terlebih dahulu berapa yang mereka punya dan kapan pembayaran pajak mesti dilunasi. Prinsip ketiga dari sistem pajak adalah pajak seharusnya ditarik pada saat, dan dengan cara, yang paling sesuai bagi orang-orang untuk membayarnya. Terakhir atau keempat, Smith berpendapat bahwa pajak yang terbaik adalah yang paling sedikit membutuhkan biaya pengumpulannya. Semua prinsip ini dirancang untuk menghasilkan pertumbuhan maksimum, atau agar pajak tidak membahayakan pertumbuhan ekonomi.
Bersama dengan Marx dan Keynes, Smith merupakan salah seorang dari tiga tokoh penting dalam ilmu ekonomi. Visinya adalah, dari kepentingan pribadi dan kepentingan nasional dalam harmoni yang sempurna akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran yang terus-menerus. Satu-satunya masalah potensial adalah intervensi pemerintah dalam pasar bebas, praktik monopoli oleh pengusaha, atau kebijakan pajak yang buruk. Karena itu Smith mengeluarkan argumen menentang pembatasan perdagangan dari kaum merkantilis dan menginginkan agar pemerintah Inggris mengendalikan monopoli dan memperhatikan dengan seksama cara-cara menarik pajak dari warga negaranya. Visi Smith adalah visi yang optimis mengenai kapitalisme kompetitif yang akan meningkatkan standar hidup dan membuat keadaan semua orang menjadi lebih baik. Sejak The Wealth of Nations diterbitkan, visi-visi ini, sampai tingkat tertentu, menjadi kenyataan, meskipun tidak terjadi dengan cepat dan tidak mudah dilakukan. Yang didak dilihat oleh Smith adalah rangkaian masalah serius dan mendalam yang akan mengiringi pertumbuhan ekonomi—pengangguran, polusi, kemiskinan buruh di Inggris, dan memburuknya kota-kota industri Inggris. Inilah masalah-masalah yang harus ditangani oleh para penerus Smith.
Saya sendiri sangat mengagumi pemikiran-pemikiran Smith, dan salah seorang yang mengidolakan Adam Smith. Sehingga, saya sendiri menyarankan agar pemerintah Indonesia sendiri instropeksi diri dan menganalisis kembali dengan memperhatikan pemikiran-pemikiran Smith (walaupun pemikiran lama) terutama untuk masalah monopoli. Karena kita sendiri bisa melihat bagaimana perusahaan-perusahaan BUMN yang memonopoli pasar di Indonesia ini sangat buruk sekali manajemennya, hal ini bisa dilihat ketika mulai tumbuhnya para pesaing. Mereka kebanyakan kurang siap dalam menghadapi persaingan, karena sudah terbiasa dengan menejemen yang “buruk” tersebut. Kita bisa mengambil contoh perusahaan-perusahaan seperti telkom, pertamina, dan PLN. Karena sudah terbiasa dengan memonopoli pasar, sehingga mereka kurang siap dalam menghadapi persaingan yang sekarang sudah mulai bermunculan, bahkan untuk dunia komunikasi sekarang bisa dikatakan sudah memasuki persaingan yang chaos, karena itu apabila telkom tidak memperbaiki manajemenya sesegera mungkin, maka mereka akan tertinggal oleh perusahaan-perusahaan swasta yang lain yang memang sudah siap dalam menghadapi persaingan yang ketat. Selain itu, perusahaan lain seperti pertamina dan PLN harus dimulai dari sekarang untuk melakukan perubahan manajemen yang lebih baik lagi agar siap menghadapi persaingan. Selain itu, instansi pemerintah lain juga harus melakukan perbaikan-perbaikan manajemen agar berorientasi pada konsumen dalam hal ini adalah masyarakat. Sehingga, diharapkan akan instansi yang menjadi public services dan tujuan untuk menuju GCG dapat tercapai.
Karya-karya Smith
The Thoery of Moral Sentiment (1759), New York, Aurust M. Kelley, 1966.
Lectures on Justice, Police, Revenue, and Arms (Catatan mahasiswa tahun 1763), New York, August M. Kelley, 1964.
An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (1776), New York, Modern Library, 1937.
Karya-karya Tentang Smith
Friedman, Milton, “Adam Smith’s Relevance for Today,” Challenge, 20, 2 (Maret-April 1977), hlm. 6-12.
Hetzel, Robert, The Relevance of Adam Smith, Richmond, Virginia, Federal Reserve Bank of Richmond, 1977.
Hollander, Samuel, The Economic of Adam Smith, Toronto, University of Toronto Press, 1973.
Rea, John, The Life of Adam Smith, London, Macmillan, 1895.
Ross, Ian Simpson, The Life of Adam Smith, Oxford, Clarendon Press, 1995.


No comments:
Post a Comment